Selasa, 14 Juni 2011

Taman ini dibangun di atas situs arkeologi Karang Anyar yang didasari konsep-konsep pelestarian dan pemanfaatan peninggalan purbakala. Peresmian TPKS dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Desember 1994. Ditandai dengan peletakan kembali replica Kedukan Bukit yang merupakan tonggak sejarah lahirnya Kerajaan Sriwijaya.


Berdasarkan interprestasi foto udara situs Karang Anyar merupakan bangunan air yang penting pada masa awal kerajaan Sriwijaya ditemukan juga sisa-sisa bangunan bata, fragmen-fragmen, gerabah, keramik, sisa perahu dan benda-benda sejarah lainnya.

Di dalam lokasi taman ini terdapat tiga gedung utama yaitu: gedung museum yang menyimpan arkeologi peninggalan Sriwijaya dan perahunya. Dalam perkembangan sejarah kuno Indonesia meliputi kurun waktu ke 7-13 M. Gedung Pendopo Agung untuk keperluan pameran-pameran, temporer, seminar dan lain-lain. Dan gedung prasasti yang menyimpan replica prasasti Kedukan Bukit serta prasasti TPKS. Di samping itu di pulau Gempaka terdapat berupa struktur bata hasil eksavasi. Dalam lingkungan taman ini juga terdapat kanal-kanal.

Sabtu, 04 Juni 2011

Kesultanan Palembang Darussalam

Masuknya Islam ke Sumatera Selatan mambawa pengaruh besar  dibidang sosial budaya dan tatanan pemerintahannya, hal ini ditandai dengan munculnya suatu pemerintahan yang berbentuk kesultanan yang bercorak Islam, Kesultanan Palembang Darussalam.

Perkebangan Islam ini diawali pada kepemimpinan Ki Mas Endi atau sultan Abdurrahman yang bergelar Kholifatul Mukmnin Saidul Iman. puncak perkebangan islam di Palembang adalah pada masa kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin I dan Sultan Mahmud Badaruddin II, dimasa kepemimpinan ini perkembangan Islam di Palembang begitu pesat, yakni terdapatnya Mesjid Agung dan Benteng Kuto Besak kedua bangunan ini salah satu bukti sejarah dalam perkembangan Budaya Islam di Palembang.

Wahai Putraku, Naiklah Bersama Kami

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan banyak pelajaran bagi umat manusia dengan kisah-kisah umat terdahulu sebelum mereka. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad dan pengikut setia ajarannya hingga kiamat tiba. Amma ba’du.

Di antara kisah yang menyentuh hati adalah kisah dakwah Nabi Nuh ‘alaihis salam. Sebuah kisah yang amat menakjubkan. Kisah perjalanan hidup seorang manusia pilihan yang mengajak kaumnya untuk taat kepada Allah dan mentauhidkan-Nya, akan tetapi kebanyakan mereka justru mencemooh dan menolak ajakannya.
Sebuah kisah yang mencerminkan kesabaran pembela kebenaran. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, agar kamu -wahai Nuh- memperingatkan kaummu sebelum siksaan yang pedih menimpa mereka. Nuh berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan untuk kalian. Hendaklah kalian beribadah kepada Allah, bertakwa kepada-Nya dan taat kepadaku. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan menangguhkan  kalian hingga waktu yang telah ditentukan. Sesungguhnya ketentuan ajal dari Allah itu apabila telah datang maka tidak bisa lagi ditangguhkan seandainya kalian mengetahui’. Nuh berkata, ‘Wahai Rabbku, sungguh aku telah mendakwahi kaumku siang dan malam. Ternyata dakwahku tidak menambah apa-apa selain mereka justru semakin bertambah lari…” (QS. Nuh: 1-6)
Kisah tentang dakwah yang mendapatkan rintangan dan cemoohan.. Dakwah yang mengajak kepada keselamatan, namun disambut dengan tanggapan yang sangat menyakitkan! Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), ‘Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu. Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan. Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, ‘Kami tidak melihat kamu melainkan (sebagai) orang biasa seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (QS. Hud: 25-27)
Nabi Nuh ‘alaihis salam mengajak kaumnya untuk bertauhid, akan tetapi mereka justru menolak ajakannya. Mereka tetap bersikeras mempertahankan budaya syirik yang telah mendarah daging dalam kehidupannya. Allah menceritakan keluhan Nabi Nuh ‘alaihis salam (yang artinya), “Nuh berkata, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku dan justru mengikuti orang-orang yang tidak mendatangkan apa-apa dengan harta dan anak-anaknya selain kerugian. Mereka pun melakukan makar yang besar. Mereka berkata: Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian, dan jangan sampai kalian tinggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr…” (QS. Nuh: 21-23).
Adakah kezaliman dan kedurhakaan yang lebih besar daripada syirik? Adakah ajakan yang lebih sesat daripada ajakan untuk menolak tauhid dan melestarikan syirik? Maha suci Allah… Sungguh, Nabi Nuh ‘alaihis salam telah menunaikan tugasnya untuk berdakwah tauhid kepada kaumnya. Sebagaimana yang Allah tugaskan kepada segenap rasul yang diutus-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Allah).” (QS. an-Nahl: 36)
Hingga, tibalah saatnya Allah memerintahkan Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk membuat perahu sebelum datangnya banjir maha dahsyat yang akan menenggelamkan orang-orang yang durhaka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia pun tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh (950 tahun), sehingga banjir besar pun menelan mereka sedangkan mereka adalah orang-orang yang berbuat kezaliman. Maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang menaiki bahtera itu, dan Kami jadikan ia sebagai bahan pelajaran bagi semua manusia.” (QS. al-Ankabut: 14)
Proyek bahtera keselamatan ini justru membuat Nabi Nuh ‘alaihis salam diejek oleh para pembesar kaumnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Buatlah bahtera dengan pengawasan dan wahyu dari Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan-Ku mengenai nasib orang-orang yang zalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan dia [Nuh] pun membuat bahtera itu, dan setiap kali para pembesar kaumnya melewatinya, mereka pun mencemooh perbuatannya. Nuh pun berkata, ‘Jika kalian mengejek kami sekarang maka kelak kami pun akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek kami. Kalian pun kelak akan tahu siapakah yang akan mendapati siksaan yang menghinakan dirinya dan siapakah yang akan tertimpa azab yang kekal’.” (QS. Hud: 37-39)
Dan, ketika banjir besar itu datang, Nabi Nuh ‘alaihis salam telah menaikkan para pengikutnya yang setia ke atas bahtera. Memang tidak ada yang beriman kepada beliau kecuali segelintir orang saja. Sebagai seorang ayah, Nabi Nuh ‘alaihis salam tentu sangat ingin menyelamatkan putranya –yang bernama Yam, anaknya yang keempat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah [2/468]– dari timpaan azab.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bahtera itu pun berlayar membawa mereka (Nuh dan pengikutnya) di tengah gelombang  yang datang laksana gunung. Dan Nuh memanggil putranya yang berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Wahai putraku, naiklah bersama kami. Janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir.’.” (QS. Hud: 42)
Lihatlah kasih sayang seorang ayah yang salih ini kepada putranya… Kasih sayang sejati seorang ayah yang menginginkan putranya selamat dari siksaan Allah. Kasih sayang yang menuntut sang ayah untuk mengajak putranya kepada kebenaran. Bukan kasih sayang palsu yang membiarkan sang anak larut dalam kebatilan… Seorang ayah yang menghendaki putranya menjadi hamba yang taat kepada Allah dan mengagungkan perintah-perintah-Nya..
Akan tetapi, sungguh disayangkan ternyata ajakan yang tulus ini disambut dengan pembangkangan. Allah ta’ala menceritakan (yang artinya), “Dia [anaknya] berkata, ‘Aku akan berlindung ke gunung yang akan menyelamatkanku dari terpaan air.’ Nuh berkata, ‘Tidak ada yang selamat pada hari ini dari hukuman Allah kecuali orang yang dirahmati.’ Gelombang itu pun memisahkan mereka berdua, dan putranya termasuk golongan yang ditenggelamkan.” (QS. Hud: 43)
Sang anak yang kafir ini mengira bahwa dengan lari ke puncak gunung bisa menyelamatkan dirinya dari ditenggelamkan oleh air bah yang sangat besar itu. Padahal, pada hari itu hanya orang-orang yang taat kepada rasul saja yang selamat, karena mereka telah menempuh jalan menuju rahmat Allah ta’ala. Adapun orang-orang yang dengan sengaja menentang rasul setelah tampak jelas petunjuk bagi mereka, maka kehancuran itulah kesudahan yang akan mereka temukan.
Semoga kisah ini bisa menjadi pendorong bagi kita untuk bersabar dalam mendakwahkan kebenaran, terus berusaha menyebarkan dakwah walaupun harus mendapatkan cemoohan. Hidayah di tangan Allah, adapun kita sekedar menyampaikan saja. Kita pun harus meyakini bahwa taat kepada rasul adalah sumber kebahagiaan dan keselamatan, meskipun sebagian orang (baca: orang kafir dan munafik) menganggapnya sebagai kebodohan

Senin, 23 Mei 2011

RUMAH LIMAS SUMATERA SELATAN

Rumah limas
Daerah Sumatera Selatan merupakan sebuah wilyah yang memiliki beraneka ragam corak budaya dan kebudayaan, keaneka ragaman tersebut melahirkan berbagai bentuk, jenis dan corak jenis budaya yang merupakan pencerminan segala sesuatu yang menyangkut aktivitas kehidupan masing-masing kelompok, hal ini perlu perlu dipelihara, diselamatkan dan dilestarikan  keberadaannya, salah satu hasil budaya wilayah sumatera selatan adalah Rumah Limas Palembang,
Rumah ini merupakan rumah traddisional Palembang  yang dibangun diatas tiang dengan atap berbentuk piramida terpenggal dengan kemiringan 45-60 derajat dengan menggunakan pasak sehngga mudah di bongkar pasang, sebagai ciri khas Rumah Limas memiliki ornamen-ornamen yang melengkapi bangunan dibuat sarat dengan simbol-simbol. Lantai rumah limas dibuat bertingkat-tingkat disebut bengkilas, secara umum  tingkatan lantai terdiri dari empat benkilas disetiap bengkilas memiliki nilai-nilai filosofis tersendiri, bagian depan rumah terdapat pembatas teras yang disebut pagar tenggalong, dan dibelakangnya bengkilas bawah. Pada bengkilas bawah ini terdapat rangkaian papan yang berfungsi sebagai dinding dan pintu disebu lawang kipas. Ditengah lawang kipas ini terdapat lawang borotas yang berfungsi sebagai tempat keluar masuk. Ciri khas rumah limas adalah adanya gerobok leket yaitu almari yang sekaligus berfunfsi sebagai dinding penyekat, 

SITUS KARANG ANYAR

Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya di Bangun di Situs Karang Anyar, yang terletak di kecamatan ilir barat II, Kotamadya Palembang. Situs ini semula merupakan pemukiman penduduk meliputi lahan yang cukup luas, kira-kira 20 ha
Situs Karanganyar terletak pada dataran alluvial bertanah lunak akibatproses pengendapan lumpur sungai musi yang terjadi berabad-abad lmanya. lokasih tepatnya pada sebuah kelokan (maender) sungai Musi, didepan sungi kramasan Palembang
Indikator yang menunjukan bahwa wilayah karanganyar ini adalah sebuah situs purbakala terdapat dibeberapa tempat dan terdiri dari beberapa macam artefak, antara lain temuan permukaan berupa pragmen keramik dan manik-manik di Kambang Unglen .
berdasarkan interpretasi foto udara diperkirakan di daerah Karanganyar ini terdapat sistem jaringan air, berupa kolam dan kanal atau parit buatan manusia serta pulau-pulau yang ada di tengah kolam, dua pulau yang besar disebut pulau cempaka dan pulau nangka temuan ini memberikan gambaran bahwa sistem jaringan air tersebut dibangun oleh masyarakat yang ahli dalam bidang tata air dan kemaritiman
dari ekskavasi yang dilakukan dibeberapa tempat di situs ini ditemukan peninggalan-peninggalan yang berupa sisa struktur (bangunan) bata,sejumlah fragmen gerabah dan keramik, manik-manik, dan sisa-sisa perahu, diantara temuan manik-manik kaca serta limbah pembuatannya, ini menunjukan bahwa situs kambang unglen tempat industri manik-manik.. semua koleksi terdapat pada Museum Sriwijaya (TPKS)

Minggu, 22 Mei 2011

TRADISI MEGALITIK

Tradisi Megalitik
Di Sumatera Selatan

Arca megalit yang terdapat di Bangsal Arca Museum Balaputra Dewa hanyalah sebagian kecil dari benda budaya peninggalan tradisi masyarakat dari masa Megalitikum yang terdapat di daerah Sumatera Selatan. Pada masa ini berkembang suatu tradisi yang menghasilkan batu-batu besar, mengacu pada etimologinya yaitu mega berarti besar dan lithos berarti batu (Prasetyo 2004, hlm.93). Tradisi Megalitik ini meninggalkan jejak peradapan yang masih dapat dilihat hingga masa sekarang. Di Sumatera Selatan, jejak-jejak masa lalu itu dapat disaksikan terutama di daratan pasemah (Basemah) di wilayah lahat dan Pagaralam.
            Pengertian megalitik telah banyak disinggung oleh para ahli sebagai suatu tradisi yag menghasilkan batu-batu besar. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa kebudayaan megalitik pada umumnya mempunyai cakupan yang luas, terutama yang terhadap nenek moyang. Pada perkembangan berikutnya istilah “magalitik” bukan merupakan masa megalitik atau budaya megalitik tetapi merupakan tradisi yang berkembang dari masa neolitik sampai perunggu besi bahkan berlanjut sampai sekarang (Soejono 1981, hlm.95).
            Menurut Geldern yang di kutip oleh Soejono (tahun 1981, hlm. 95) mengatakan bahwa  tradisi megalitik berasal dari daerah Tiongkok Selatan dan disebarkan oleh bangsa Austronesia yang merupakan pendukung dari kebudayaan Beliung Persegi. Pendukung kebudayaan ini juga telah mengenal penanaman padi, ternak lembu dan kerbau sebagai korban. Mereka pun telah mengenal pendirian bangunan megalitik sebagai peringatan upacara kebudayaan ini menyebar antara lain ke Jepang, Formosa, Taiwan, Malaysia dan Indonesia.
            Selanjutnya Geldern mengatakan bahwa kedatangan kebudayaan megalitik di Indonesia kurang lebih 2500-1500 SM. Kesimpulan di atas diperkuat oleh Van der hoop yang mengatakan bahwa baik kebudayaan megalitik maupun kebudayaan perunggu datang dari India belakang (Soejono 1981, hlm.95). Sudah merupakan anggapan yang umum dari para ahli bahwa kebudayaan megalitik di Indonesia berasal dari daratan Asia dan berkembang di kepulauaan Indonesia. Sejak tradisi megalitik muncul di daratan Asia, daerah ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, terutama dalam hal pemujaan arwah nenek moyang. Disamping itu materi-materi budaya yang terkandung dalam tradisi megalitik juga mengalami perkembangan sehingga lebih kaya akan berbagai variasi yang kemungkinan disebabkan juga oleh pengaruh lingkungan setempat.
            Benda tinggalan dari tradisi megalit itu kini masih dapat disaksikan dan tersebar di berbagai Situs yang ada di Indonesia. Tinggalan tradisi batu besar itu berupa Menhir, Dolmen, Kubur Batu, Arca, Lumpang Batu, Batu Dakon, Punden Berundak dan sebagainya. Di Sumatera Selatan tinggalan itu terutama di dataran tinggi Pasemah, budaya pasemah sangat kaya dengan berbagai tinggalan megalitik daerah ini terletak di antara Bukit Barisan dan Pengunungan Gumai, lereng Gunung Dempo (3150m). 
            Dalam laporan Tim Peneliti dari Balai Arkeologi Palembang menyebutkan pada umumnya situs megalitik Lahat dan Pagaralam terletak pada ketinggian di atas 400 m yang mempunyai curah hujan tinggi sepanjang tahun. (bersambung)

SITUS BUKIT SIGUNTANG "ASAL USUL RAJA-RAJA MELAYU"

Bukit Siguntang terletak di bagian barat kota Palembang dan berjarak sekitar tiga kilometer di sebelah barat laut Karanganyar. Tempat yang dikenal dengan temuan arca Budha yang besar ini merupakan gundukan tanah yang paling menonjol di dataran Palembang, dengan tinggi sekitar 29-30 meter dari permukaan laut.
Bukit Siguntang juga dikenal dan dipercaya sebagai kompleks pemakaman raja-raja Melayu. Menurut Schnitger dari situs ini banyak ditemukan berbagai jenis tinggalan budaya masa lampau. Situs Bukit Siguntang secara administratif termasuk wilayah Kelurahan Bukit lama, Kecamatan Ilir Barat I Palembang.
Menurut kitab Sejarah Melayu Bukit Siguntang merupakan tempat turunnya makhluk setengah dewa yaitu Sang Siperba, yang dikemudian hari menurunkan raja-raja Melayu di Sumatera, Kalimantan Barat, dan Semenanjung Malaysia. Menurut Sejarah Melayu, Bukit Siguntang adalah Gunung Mahameru seperti yang terdapat dalam cerita-cerita agama Hindu dan Budha. Bukit Siguntang oleh sebagian masyarakat, terutama masyarakat Melayu di Sumatera dan Semenanjung, dianggap suci karena merupakan cikal bakal orang-orang Melayu. Raja yang memerintah Malaka dikatakan sebagai keturunan dari Sang Siperba, makhluk setengah dewa yang turun di Bukit Siguntang. Oleh sebab itu orang-orang Melayu dari Malaka kalau berkunjung ke Palembang merasa belum lengkap bila belum mengunjungi Bukit Siguntang.
Menurut sumber yang patut dipercaya, pada tahun 1920 ditempat tersebut ditemukan sebuah fragmen badan arca Budha yang terbuat dari granit, yang ternyata berasal dari sebuah arca Budha yang berukuran cukup besar. Kepala Arca Budha itu semula sudah disimpan di Museum Nasional, kemudian disatukan kembali dengan badannya, tetapi bagian kakinya belum ditemukan sampai sekarang. Setelah disatukan seluruhnya  arca Budha itu berukuran tinggi 277 cm, lebar bahu 100 cm, dan tebal 48 cm.
Di daerah Bukit Siguntang juga ditemukan fragmen arca Bodhisattwa. Kepala arca ini digambarkan dengan rambut yang tersisir rapi dengan ikatan seutas pita yang berhiaskan kuntum bunga. Sebagaimana arca Budha besar yang telah ditemukan, bagian badan arca ini ditemukan ditempat terpisah. Selain arca-arca tersebut, di Bukit Siguntang ditemukan juga runtuhan stupa dari bahan batu pasir dan bata, fragmen prasasti dan arca Bodhisatwa batu,  arca Kuwera, dan temuan terbaru adalah Budha dalam sikap duduk lengkap dengan prabha dan paying. Arca ini menggambarkan tokoh Wairocana
Di daerah Bukit Siguntang ada temuan yang menarik yaitu fragmen prasasti batu yang ditulis dalam aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Prasasti yang terdiri dari 21 baris ini menceritakan tentang hebatnya sebuah peperangan yang mengakibatkan banyaknya darah yang tumpah, disamping menyebutkan juga kutukan bagi mereka yang berbuat kesalahan. (herdi)