Minggu, 22 Mei 2011

TRADISI MEGALITIK

Tradisi Megalitik
Di Sumatera Selatan

Arca megalit yang terdapat di Bangsal Arca Museum Balaputra Dewa hanyalah sebagian kecil dari benda budaya peninggalan tradisi masyarakat dari masa Megalitikum yang terdapat di daerah Sumatera Selatan. Pada masa ini berkembang suatu tradisi yang menghasilkan batu-batu besar, mengacu pada etimologinya yaitu mega berarti besar dan lithos berarti batu (Prasetyo 2004, hlm.93). Tradisi Megalitik ini meninggalkan jejak peradapan yang masih dapat dilihat hingga masa sekarang. Di Sumatera Selatan, jejak-jejak masa lalu itu dapat disaksikan terutama di daratan pasemah (Basemah) di wilayah lahat dan Pagaralam.
            Pengertian megalitik telah banyak disinggung oleh para ahli sebagai suatu tradisi yag menghasilkan batu-batu besar. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa kebudayaan megalitik pada umumnya mempunyai cakupan yang luas, terutama yang terhadap nenek moyang. Pada perkembangan berikutnya istilah “magalitik” bukan merupakan masa megalitik atau budaya megalitik tetapi merupakan tradisi yang berkembang dari masa neolitik sampai perunggu besi bahkan berlanjut sampai sekarang (Soejono 1981, hlm.95).
            Menurut Geldern yang di kutip oleh Soejono (tahun 1981, hlm. 95) mengatakan bahwa  tradisi megalitik berasal dari daerah Tiongkok Selatan dan disebarkan oleh bangsa Austronesia yang merupakan pendukung dari kebudayaan Beliung Persegi. Pendukung kebudayaan ini juga telah mengenal penanaman padi, ternak lembu dan kerbau sebagai korban. Mereka pun telah mengenal pendirian bangunan megalitik sebagai peringatan upacara kebudayaan ini menyebar antara lain ke Jepang, Formosa, Taiwan, Malaysia dan Indonesia.
            Selanjutnya Geldern mengatakan bahwa kedatangan kebudayaan megalitik di Indonesia kurang lebih 2500-1500 SM. Kesimpulan di atas diperkuat oleh Van der hoop yang mengatakan bahwa baik kebudayaan megalitik maupun kebudayaan perunggu datang dari India belakang (Soejono 1981, hlm.95). Sudah merupakan anggapan yang umum dari para ahli bahwa kebudayaan megalitik di Indonesia berasal dari daratan Asia dan berkembang di kepulauaan Indonesia. Sejak tradisi megalitik muncul di daratan Asia, daerah ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, terutama dalam hal pemujaan arwah nenek moyang. Disamping itu materi-materi budaya yang terkandung dalam tradisi megalitik juga mengalami perkembangan sehingga lebih kaya akan berbagai variasi yang kemungkinan disebabkan juga oleh pengaruh lingkungan setempat.
            Benda tinggalan dari tradisi megalit itu kini masih dapat disaksikan dan tersebar di berbagai Situs yang ada di Indonesia. Tinggalan tradisi batu besar itu berupa Menhir, Dolmen, Kubur Batu, Arca, Lumpang Batu, Batu Dakon, Punden Berundak dan sebagainya. Di Sumatera Selatan tinggalan itu terutama di dataran tinggi Pasemah, budaya pasemah sangat kaya dengan berbagai tinggalan megalitik daerah ini terletak di antara Bukit Barisan dan Pengunungan Gumai, lereng Gunung Dempo (3150m). 
            Dalam laporan Tim Peneliti dari Balai Arkeologi Palembang menyebutkan pada umumnya situs megalitik Lahat dan Pagaralam terletak pada ketinggian di atas 400 m yang mempunyai curah hujan tinggi sepanjang tahun. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar