Senin, 23 Mei 2016
Tradisi Megalitik Di Sumatera Selatan
Tradisi Megalitik Di Sumatera Selatan Arca megalit yang terdapat di Bangsal Arca Museum Balaputra Dewa hanyalah sebagian kecil dari benda budaya peninggalan tradisi masyarakat dari masa Megalitikum yang terdapat di daerah Sumatera Selatan. Pada masa ini berkembang suatu tradisi yang menghasilkan batu-batu besar, mengacu pada etimologinya yaitu mega berarti besar dan lithos berarti batu (Prasetyo 2004, hlm.93). Tradisi Megalitik ini meninggalkan jejak peradapan yang masih dapat dilihat hingga masa sekarang. Di Sumatera Selatan, jejak-jejak masa lalu itu dapat disaksikan terutama di daratan pasemah (Basemah) di wilayah lahat dan Pagaralam. Pengertian megalitik telah banyak disinggung oleh para ahli sebagai suatu tradisi yag menghasilkan batu-batu besar. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa kebudayaan megalitik pada umumnya mempunyai cakupan yang luas, terutama yang terhadap nenek moyang. Pada perkembangan berikutnya istilah “magalitik” bukan merupakan masa megalitik atau budaya megalitik tetapi merupakan tradisi yang berkembang dari masa neolitik sampai perunggu besi bahkan berlanjut sampai sekarang (Soejono 1981, hlm.95). Menurut Geldern yang di kutip oleh Soejono (tahun 1981, hlm. 95) mengatakan bahwa tradisi megalitik berasal dari daerah Tiongkok Selatan dan disebarkan oleh bangsa Austronesia yang merupakan pendukung dari kebudayaan Beliung Persegi. Pendukung kebudayaan ini juga telah mengenal penanaman padi, ternak lembu dan kerbau sebagai korban. Mereka pun telah mengenal pendirian bangunan megalitik sebagai peringatan upacara kebudayaan ini menyebar antara lain ke Jepang, Formosa, Taiwan, Malaysia dan Indonesia. Selanjutnya Geldern mengatakan bahwa kedatangan kebudayaan megalitik di Indonesia kurang lebih 2500-1500 SM. Kesimpulan di atas diperkuat oleh Van der hoop yang mengatakan bahwa baik kebudayaan megalitik maupun kebudayaan perunggu datang dari India belakang (Soejono 1981, hlm.95). Sudah merupakan anggapan yang umum dari para ahli bahwa kebudayaan megalitik di Indonesia berasal dari daratan Asia dan berkembang di kepulauaan Indonesia. Sejak tradisi megalitik muncul di daratan Asia, daerah ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, terutama dalam hal pemujaan arwah nenek moyang. Disamping itu materi-materi budaya yang terkandung dalam tradisi megalitik juga mengalami perkembangan sehingga lebih kaya akan berbagai variasi yang kemungkinan disebabkan juga oleh pengaruh lingkungan setempat. Benda tinggalan dari tradisi megalit itu kini masih dapat disaksikan dan tersebar di berbagai Situs yang ada di Indonesia. Tinggalan tradisi batu besar itu berupa Menhir, Dolmen, Kubur Batu, Arca, Lumpang Batu, Batu Dakon, Punden Berundak dan sebagainya. Di Sumatera Selatan tinggalan itu terutama di dataran tinggi Pasemah, budaya pasemah sangat kaya dengan berbagai tinggalan megalitik daerah ini terletak di antara Bukit Barisan dan Pengunungan Gumai, lereng Gunung Dempo (3150m). Dalam laporan Tim Peneliti dari Balai Arkeologi Palembang menyebutkan pada umumnya situs megalitik di Sumatera Selatan terletak di daerah Lahat dan Pagaralam
SITUS KAMBANG UNGLEN
Situs
kambang unglen terletak disebelah utara situs, Karanganyar. Secara
administratif situs ini terbentuk wilayah keluruhan Bukitlama, kecematan ilir
barat I palembang. Situs kambang unglen adalah dataran alluvial yang beberapa
tempat diprtinggikan dengan secara menimbun tanah . Didaerah ini banyak
ditemukan manik-manik , pecahan dan pecahan bata sisa bangunan . hasil pemboran
disitus ini menujukan bahwa material utama adalah lempung tuffan yang
mengandung pecahan bata dan arang besar sekali kemungkinan bahwa situs kambang
unglen ini pada zaman dahulu merupakan tempat industri manik-manik kaca . hal
ini dibuktikan dengan banyaknya ditemukan pecahan bahan , kaca , limbah
manik-manik dan ribuan manik-manik .
Berdasarkan analisis bahan dan
teknologi pembuatannya , manik manik kaca yang di temukan di situs kambang
unglen ada yang lokal dan imprort. Manik manik
import berdasarkan aktribut gaya
nya memperlihatkan ciri manik manik asia barat abad ke-10 - 11 masehi, thailand abad ke 9, dan malaysia
abad k 10 – 11 masehi. Dengan demikian
dapat di katakan bahwa manik manik
import tersebut berasal dari sekitar abad 9 – 12 masehi. Manik manik kaca dan batu
buatn lokal yang di temukan di kambang unglen mempunyai ciri pada
pembutannya yang kasar, terutama jika di bandingkan dengan manik manik import.
Beberapa diantaranya menunjukan pembuatan yang gagal. Jenis manik manik kaca yang di temukan umumnya mempunyai tipe indo – pasifik, baik yang
berbentuk bulat maupun pipa.
Selain temuan temuan tersebut di situs
kambang unglen juga di temukan dua buah fragmen prasasti. Fragmen prasasti yang
pertama di temukan di halaman sekolah SMP PGRI 7 PALEMBANG, dengan ukuran 12x13
CM, terbuat dari batu lempung berwarna coklat kekuningan. Prasasti ini diulis
dengan aksara Pallawa dan berbahasa Melayu kuno. Dari keempat baris hanya tiga
baris saja yang masih mungkin dibaca. Pragmen prasasti yg kedua ditemukan
dihalaman sebelah Barat daya SMP PGRI 7, bahan yang digunakan sama dengan
Prasasti pertama. Ukuran Prasasti kedua ini sekitar 10 CM untuk tebalnya,
panjang 34 CM dan lebar30 CM. Kalimat yang tersisa terdidi dari dua baris,
tetapi yang masih terbaca dengan jelas hanya satu baris. Berdasarkan
Paleografinya Prasasti Batu ini berasal dari abad ke-7 masehi, yang berisi
tentang, perjalanan suci yang menang dan sukses bagi semua makhluk.
Situs karanganyar
Situs
karanganyarsecara administratip terletak di kelurahan Karanganyar, kecamatan
Gandus, Palembang.Terletak pada dataran alluvial bertanah lunak akibat proses
pengendapan lumbur Sungai Musi, tepatnya pada meander Sungai Musi berhadapan
dengan pertemuan dengan Sungai Musi, Ogan dan Keramasan. Belahan Utara Sungai
Musi sudahsejak lama di ketahui sebagai lokasi sejumlah situs arkeologi yang
berasal dari abad ke 7 sampai dengan 15 M, di antaranya adalah Situs Kambang
Unglen ,Padang Kapas, Ladangsirap dan Bukit Siguntangyang terletak berdekatan
dengan Situs karanganyar. Keempat Situs inidi duga sejaman dengan situs
Karanganyar dan di hubungkan dengan Kehadiran Kerajaan Sriwijaya.
Situs karanganyar pada umumnya
memiliki ketinggian kurang dari 12m
diatas permukaan air Sungai Musi. Berada di sebelah barat
Palembang tepatnya di sebelah selatan Bukit Siguntang, Situs penting ini
di jadikan sebagai pusat impormasi tentang Sriwijaya dengan nama Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya,oleh Pemerintah Daerah Tingkat 1
Sumatera Selatan. Berdasarkan interpretasi foto udara tahun 1984 menunjukan
bahwa penampilan situs Karanganyar merupakan sebuah fitur berapa bangunan air
yang secara keseluruhan terdiri dari kolam dan dua pulau yang berbentuk bujur
sangkar dan empat persegi panjang, serta parit dengan luas area meliputi 20ha.
Serangkaian kanal , pulau dan bagian- bagian lainnya memperkenalkan karang
anyar sebagai sbuah karya arisitektur masa lampau yang berkaitan dengan
bangunan air .
Dilokasi dipercaya sebagai
sisa taman kerajaan masa Sriwijaya ini dijumpai pula artepak yang menampakan
aktivitas keseharian masyarakatnya, sepetri manik-manik,struktur batu bata
,damar,tali ijuk, keramik dan sisa perahu
Temuan-temuan tersebut diperoleh saat
pembangunan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya maupun melalui kegiatan
penilitian penyelamatan . Rekonstruksi atas fragmen keramik yang banyak
ditemukan memperlihatkan adanya penggunaan tempayan , guci ,buli-buli , mangkok
dan piring . sedangkan berdasarkan rekonstruksi dari sisa gerabah menujukan
pemanfaatan berbagai bentuk tungku atau anglo , kendi ,periuk , tempayan , pasu
dan bahkan genteng .
Akumulasi temuan –temuan itu menujukan
betapa padatnya aktifitas keseharian masyrakat yang hidup di sana pada masa
lalu
Peninggalan purbakala situs Karanganyar
di bedakan atas peninggalan berupa fiktur dan artefak. Kolam, parit dan struktur
bata adalah peninggalan berupa fiktur ,
sedangkan pecahan keramik , manik manik, tembikar, cetakan stupa, uang logam
termasuk artefak. Diantara tinggalan tersebut yang paling penting adalah
bangunan bangunan air yang berupa kolam,
pulau dan parit, karena keberadaan nya merupakan bukti dari kehadiran manusia
yang menetap secara permanen dalam jangka waktu yang cukup lama. Diperkirakan
pula penduduk karanganyar dulunya menggali saqluran atau parit, seperti parit
suak bujang, selain sebagai pengkal banjir juga berfungsi sebagai alat
transportasi yang menghubungkan Sungai Musi dengan daerah daerah pendalaman di
sekitar Situs .
Situs karanganyar terbagi menjadi tiga
subsitus yaitu subsitus Karanganyar 1,2 dan 3 yang terbesar adalah subsitus
Karanganyar 1 . Subsitus Karanganyar 1 berupa sebuah kolam berdenah empat
persegi panjang membujur utara – selatan
dengan ukuran 623 x 325 m ditengah kolam ini terdapat dua pulau yaitu Pulau
Nangka dan cempaka . Pulau Nangka memiliki ukuran 465 x 325 m , sedangkan pulau
cempaka memiliki ukuran 40 x 40 m . Pulau Cempaka dikelilingi kolam besar
berukuran 145 x 300 m sedangkan pulau Nangka dikelilingi parit-parit dengan
ukuran 15 x 1190 m . Subsitus
Karanganyar 2 terletak disebelah barat daya kolam 1 dan merupakan kolam kecil ,
ditengahnya terdapat pulau berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 40 x 40 m .
Subsitus Karanganyar 3 berada disebelah timur Subsitus Karanganyar 1 dengan
denah bujur sangkar berukuran 60 x 60 m .
Ketiga subsitus tersebut di hubungkan
oleh parit parit yang berjumlah tujuh buah.Parit 1 merupakan parit yang
terpanjang yaitu 3000 m dengan lebar 25 sampai dengan 30 m. Parit ini oleh
penduduk di berinama suak bujang. Sejajar dengan parit 1 terdapat parit 2
dengan panjang 1600 m. Parit ini terletak di sebelah selatan subsitus
karanganyar 1 dan subsitus karanganyar 3. Ujung parit ini berasal dari subsitus
karanganyar 2, sedangakan ujung timurnya
bermuara di sungai musi. Parit 1dan2 di hubungkan dengan parit 3 yang terletak
di antara .
Subsitus Karanganyar 3 . panjang parit sekitar
700 m membujur arah utara salatan . Selain itu masih ada parit lain yang
sejajar dengan parit 3 yaitu parit 4 dan parit 5 yang terletak disebelah
barat Subsitus Karanganyar 1 . ujung
selatan parit 4 dan 5 ini berakhir diparit 2 . dari parit 2 terdapat juga dua
buah parit yang ujung salatanya bermuara disungai musi yaitu parit 6 dan 7
Pada tahun 1985 dilakukan penggalian
arkeologi dan berlanjut pada tahun 1989, dari penggalian tersebut banyak
menghasilkan temuan pecahan tembikar , baa, keramik , manik – manik dan
struktur batu bata . berdasarkan hasil analisa keramik-keramik Cina yang
ditemukan dari situs ini berasal dari Dinasti Tang ( VII-X M ), Dinasti Song
(X-XII M ), Yuan (XIII-XIV M ) dan Dinasti Qing (XVII-XIXM ), Yang umumnya
terdiri dari tempatnya , buli-buli ,pasu mangkuk dan piring sedangkan ekskavasi
yang dilakukan dipulau cempaka berhasil menampakkan kembali sisa bangunan
berupa struktur bata yang tidak beraturan pada kedalaman 30 cm struktur bata
tersebut letaknya berorietasi barat-timur sepanjang 20 cm , bata yang tidak
menujukan pola ikat yang jelas. Selaim struktur bata ditemukan juga
pecahan-pecahan keramik dan gerabah sebagai temuan terbanyak .
Terbakarnya Wanua Sriwijaya di Lahan Gambut Sumatera Selatan
Terbakarnya
hutan dan lahan gambut Sumatera Selatan di 2015, ternyata berdampak pada
keberadaan situs-situs arkeologi. Indikatornya seperti penemuan lokasi situs
Sriwijaya di Desa Ulak Kendodong, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering
Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Situs ini nyatanya ditemukan warga di lokasi
gambut yang terbakar.
12. Foto: Nurhadi Rangkuti
Rabu
(16/3/2016). Dipandu warga setempat saya bersama tim arkeologi dari Balai
Arkeologi (Balar) Sumatera Selatan mengunjungi lokasi situs di lokasi kebakaran
tahun 2015. Lokasi ini masuk dalam konsesi sebuah perusahaan hutan tanaman
industri (HTI) di Distrik Sungai Ketupak, yang berdasarkan informasi luasnya
sekitar 41.067,56 hektare .
Situs- situs
yang terbakar terdapat pada tempat yang bernama Bukit Tengkorak, Pulau Pisang,
dan Kanal 12. Saat di Kanal 12, setelah menelusuri kanal-kanal buatan dengan
perahu mesin, terlihat sisa-sisa hutan akasia yang terbakar dan menjadi
arang, di kiri-kanan kanal.
Lahan gambut
seluas 50 hektare di Kanal 12 tersebut, kini tergenang air karena musim hujan.
Terlihat gundukan-gundukan tanah bekas galian para pencari harta karun
yang menyembul di antara genangan air. Arkeolog coba mengais gundukan yang
ditinggal oleh para penggali harta karun itu.
Mereka
meninggalkan pecahan-pecahan gerabah dan keramik kuno, fragmen-fragmen kaca
impor, kepingan papan perahu kuno dan beberapa butir manik-manik kuno.
Benda-benda yang tidak laku dijual itu dikumpulkan arkeolog untuk
diidentifikasi lebih lanjut.
“Kebakaran
tahun lalu telah menghanguskan semak-semak yang tinggi di sini. Bara api sampai
ke bawah permukaan tanah sedalam 1-2 meter. Para penggali harta karun banyak
menemukan guci-guci dan tiang-tiang kayu kuno yang hangus terbakar,” kata
Renggo, warga Desa Cengal. Lebih lanjut ia menjelaskan ribuan tiang kayu kuno
ditemukan di Kanal 12, Pulau Pinang, Bukit Tengkorak sampai ke wilayah Desa
Jeruju.
Tiang-tiang
kayu kuno bagian dari bangunan rumah panggung yang awet ribuan tahun
dalam tanah rawa gambut. Para arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
dan Balai Arkeologi Palembang telah mengidentifikasi umur tiang-tiang kayu di
situs-situs lahan basah di Karangagung Tengah (Kabupaten Musi Banyuasin)
kawasan Air Sugihan Kiri (Kabupaten Banyuasin) dan Air Sugihan Kanan (Kabupaten
Ogan Komering Ilir). Tiang-tiang kayu dibuat dari pohon meranti dan ulin.
Berdasarkan analisis carbon dating (C14) tiang-tiang kayu di
kawasan situs tersebut berasal dari awal Masehi, jauh sebelum munculnya
Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 di Palembang.
Tim Balai
Arkeologi Palembang survei di Situs Kanal 12 Ulak Kedondong. Foto: Nurhadi
Rangkuti
Prasasti
Sriwijaya
Situs Kanal
12 di wilayah Ulak Kedondong menjadi lebih bermakna dengan ditemukannya
prasasti pendek di masa Sriwijaya oleh penduduk. Kini prasasti tersebut
diamankan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya di Jambi. Jenis tinggalan
arkeologis lain yang sezaman dengan prasasti tersebut adalah keramik-keramik
Tiongkok dari masa Dinasti Tang.
Diperkirakan,
permukiman (wanua) masa Sriwijaya banyak terdapat di wilayah Kecamatan Cengal,
antara lain di daerah aliran Sungai Lumpur yang meliputi Sungai Langipi, Sungai
Ketupak, Sungai Serdang, Sungai Jeruju, sampai ke Sungai Pasir. Sungai-sungai
tersebut saling terkait dan akhirnya bermuara di Selat Bangka.
“Ada
kecenderungan perusahaan besar HTI dan sawit sengaja membendung dan menutup
sungai-sungai yang berada di wilayah itu,” kata Renggo sambil menunjuk berbagai
jejak sungai yang melewati Situs Kanal 12 Ulak Kedondong. Menurutnya, bekas
sungai di situs itu berhubungan dengan Sungai Langipi (Lempipi) yang
bermuara di Sungai Lumpur.
Bagi
arkeolog, jaringan sungai di rawa gambut dari hulu sampai hilir
perlu dilestarikan. Melalui pola aliran sungai dapat dicari situs-situs
arkeologi dan pola sebarannya.Pada gilirannya, dapat direkonstruksi peradaban
kuno di lahan basah, baik pada masa pra-Sriwijaya maupun pada masa kejayaan
maritim Sriwijaya.
Foto: Balai Arkeologi Palembang
Terancamnya
bukti peradaban Sriwijaya
Terbakarnya
wanua-wanua Sriwijaya di wilayah Kecamatan Cengal tersebut jelas mencemaskan.
“Bukti-bukti peradaban maritim Sriwijaya tinggal menunggu waktu saja untuk
musnah, jika kebakaran lahan gambut terus terjadi,” kata Dr. Yenrizal, Doktor
Komunikasi Lingkungan UIN Raden Fatah Palembang, saat berbincang dengan saya,
Minggu (20/03/2016).
Badan
Restorasi Gambut yang dibentuk Presiden Jokowi dan program Desa Peduli Api
(DPA) yang dicetuskan Gubernur Sumatera Selatan perlu menggunakan pendekatan
budaya. Agar, situs-situs arkeologi yang juga cagar budaya, dilindungi
sekaligus juga dimanfaatkan untuk edukasi kultural dan wisata budaya
Selasa, 14 Juni 2011
TAMAN PURBAKALA KERAJAAN SRIWIJAYA
Taman ini dibangun di atas situs arkeologi Karang Anyar yang didasari konsep-konsep pelestarian dan pemanfaatan peninggalan purbakala. Peresmian TPKS dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Desember 1994. Ditandai dengan peletakan kembali replica Kedukan Bukit yang merupakan tonggak sejarah lahirnya Kerajaan Sriwijaya.
Berdasarkan interprestasi foto udara situs Karang Anyar merupakan bangunan air yang penting pada masa awal kerajaan Sriwijaya ditemukan juga sisa-sisa bangunan bata, fragmen-fragmen, gerabah, keramik, sisa perahu dan benda-benda sejarah lainnya.
Di dalam lokasi taman ini terdapat tiga gedung utama yaitu: gedung museum yang menyimpan arkeologi peninggalan Sriwijaya dan perahunya. Dalam perkembangan sejarah kuno Indonesia meliputi kurun waktu ke 7-13 M. Gedung Pendopo Agung untuk keperluan pameran-pameran, temporer, seminar dan lain-lain. Dan gedung prasasti yang menyimpan replica prasasti Kedukan Bukit serta prasasti TPKS. Di samping itu di pulau Gempaka terdapat berupa struktur bata hasil eksavasi. Dalam lingkungan taman ini juga terdapat kanal-kanal.
Sabtu, 04 Juni 2011
Kesultanan Palembang Darussalam
Masuknya Islam ke Sumatera Selatan mambawa pengaruh besar dibidang sosial budaya dan tatanan pemerintahannya, hal ini ditandai dengan munculnya suatu pemerintahan yang berbentuk kesultanan yang bercorak Islam, Kesultanan Palembang Darussalam.
Perkebangan Islam ini diawali pada kepemimpinan Ki Mas Endi atau sultan Abdurrahman yang bergelar Kholifatul Mukmnin Saidul Iman. puncak perkebangan islam di Palembang adalah pada masa kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin I dan Sultan Mahmud Badaruddin II, dimasa kepemimpinan ini perkembangan Islam di Palembang begitu pesat, yakni terdapatnya Mesjid Agung dan Benteng Kuto Besak kedua bangunan ini salah satu bukti sejarah dalam perkembangan Budaya Islam di Palembang.
Perkebangan Islam ini diawali pada kepemimpinan Ki Mas Endi atau sultan Abdurrahman yang bergelar Kholifatul Mukmnin Saidul Iman. puncak perkebangan islam di Palembang adalah pada masa kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin I dan Sultan Mahmud Badaruddin II, dimasa kepemimpinan ini perkembangan Islam di Palembang begitu pesat, yakni terdapatnya Mesjid Agung dan Benteng Kuto Besak kedua bangunan ini salah satu bukti sejarah dalam perkembangan Budaya Islam di Palembang.
Wahai Putraku, Naiklah Bersama Kami
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan banyak pelajaran bagi umat manusia dengan kisah-kisah umat terdahulu sebelum mereka. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad dan pengikut setia ajarannya hingga kiamat tiba. Amma ba’du.
Di antara kisah yang menyentuh hati adalah kisah dakwah Nabi Nuh ‘alaihis salam. Sebuah kisah yang amat menakjubkan. Kisah perjalanan hidup seorang manusia pilihan yang mengajak kaumnya untuk taat kepada Allah dan mentauhidkan-Nya, akan tetapi kebanyakan mereka justru mencemooh dan menolak ajakannya.
Sebuah kisah yang mencerminkan kesabaran pembela kebenaran. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, agar kamu -wahai Nuh- memperingatkan kaummu sebelum siksaan yang pedih menimpa mereka. Nuh berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan untuk kalian. Hendaklah kalian beribadah kepada Allah, bertakwa kepada-Nya dan taat kepadaku. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian hingga waktu yang telah ditentukan. Sesungguhnya ketentuan ajal dari Allah itu apabila telah datang maka tidak bisa lagi ditangguhkan seandainya kalian mengetahui’. Nuh berkata, ‘Wahai Rabbku, sungguh aku telah mendakwahi kaumku siang dan malam. Ternyata dakwahku tidak menambah apa-apa selain mereka justru semakin bertambah lari…” (QS. Nuh: 1-6)
Kisah tentang dakwah yang mendapatkan rintangan dan cemoohan.. Dakwah yang mengajak kepada keselamatan, namun disambut dengan tanggapan yang sangat menyakitkan! Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), ‘Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu. Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan. Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, ‘Kami tidak melihat kamu melainkan (sebagai) orang biasa seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (QS. Hud: 25-27)
Nabi Nuh ‘alaihis salam mengajak kaumnya untuk bertauhid, akan tetapi mereka justru menolak ajakannya. Mereka tetap bersikeras mempertahankan budaya syirik yang telah mendarah daging dalam kehidupannya. Allah menceritakan keluhan Nabi Nuh ‘alaihis salam (yang artinya), “Nuh berkata, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku dan justru mengikuti orang-orang yang tidak mendatangkan apa-apa dengan harta dan anak-anaknya selain kerugian. Mereka pun melakukan makar yang besar. Mereka berkata: Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian, dan jangan sampai kalian tinggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr…” (QS. Nuh: 21-23).
Adakah kezaliman dan kedurhakaan yang lebih besar daripada syirik? Adakah ajakan yang lebih sesat daripada ajakan untuk menolak tauhid dan melestarikan syirik? Maha suci Allah… Sungguh, Nabi Nuh ‘alaihis salam telah menunaikan tugasnya untuk berdakwah tauhid kepada kaumnya. Sebagaimana yang Allah tugaskan kepada segenap rasul yang diutus-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Allah).” (QS. an-Nahl: 36)
Hingga, tibalah saatnya Allah memerintahkan Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk membuat perahu sebelum datangnya banjir maha dahsyat yang akan menenggelamkan orang-orang yang durhaka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia pun tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh (950 tahun), sehingga banjir besar pun menelan mereka sedangkan mereka adalah orang-orang yang berbuat kezaliman. Maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang menaiki bahtera itu, dan Kami jadikan ia sebagai bahan pelajaran bagi semua manusia.” (QS. al-Ankabut: 14)
Proyek bahtera keselamatan ini justru membuat Nabi Nuh ‘alaihis salam diejek oleh para pembesar kaumnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Buatlah bahtera dengan pengawasan dan wahyu dari Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan-Ku mengenai nasib orang-orang yang zalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan dia [Nuh] pun membuat bahtera itu, dan setiap kali para pembesar kaumnya melewatinya, mereka pun mencemooh perbuatannya. Nuh pun berkata, ‘Jika kalian mengejek kami sekarang maka kelak kami pun akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek kami. Kalian pun kelak akan tahu siapakah yang akan mendapati siksaan yang menghinakan dirinya dan siapakah yang akan tertimpa azab yang kekal’.” (QS. Hud: 37-39)
Dan, ketika banjir besar itu datang, Nabi Nuh ‘alaihis salam telah menaikkan para pengikutnya yang setia ke atas bahtera. Memang tidak ada yang beriman kepada beliau kecuali segelintir orang saja. Sebagai seorang ayah, Nabi Nuh ‘alaihis salam tentu sangat ingin menyelamatkan putranya –yang bernama Yam, anaknya yang keempat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah [2/468]– dari timpaan azab.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bahtera itu pun berlayar membawa mereka (Nuh dan pengikutnya) di tengah gelombang yang datang laksana gunung. Dan Nuh memanggil putranya yang berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Wahai putraku, naiklah bersama kami. Janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir.’.” (QS. Hud: 42)
Lihatlah kasih sayang seorang ayah yang salih ini kepada putranya… Kasih sayang sejati seorang ayah yang menginginkan putranya selamat dari siksaan Allah. Kasih sayang yang menuntut sang ayah untuk mengajak putranya kepada kebenaran. Bukan kasih sayang palsu yang membiarkan sang anak larut dalam kebatilan… Seorang ayah yang menghendaki putranya menjadi hamba yang taat kepada Allah dan mengagungkan perintah-perintah-Nya..
Akan tetapi, sungguh disayangkan ternyata ajakan yang tulus ini disambut dengan pembangkangan. Allah ta’ala menceritakan (yang artinya), “Dia [anaknya] berkata, ‘Aku akan berlindung ke gunung yang akan menyelamatkanku dari terpaan air.’ Nuh berkata, ‘Tidak ada yang selamat pada hari ini dari hukuman Allah kecuali orang yang dirahmati.’ Gelombang itu pun memisahkan mereka berdua, dan putranya termasuk golongan yang ditenggelamkan.” (QS. Hud: 43)
Sang anak yang kafir ini mengira bahwa dengan lari ke puncak gunung bisa menyelamatkan dirinya dari ditenggelamkan oleh air bah yang sangat besar itu. Padahal, pada hari itu hanya orang-orang yang taat kepada rasul saja yang selamat, karena mereka telah menempuh jalan menuju rahmat Allah ta’ala. Adapun orang-orang yang dengan sengaja menentang rasul setelah tampak jelas petunjuk bagi mereka, maka kehancuran itulah kesudahan yang akan mereka temukan.
Semoga kisah ini bisa menjadi pendorong bagi kita untuk bersabar dalam mendakwahkan kebenaran, terus berusaha menyebarkan dakwah walaupun harus mendapatkan cemoohan. Hidayah di tangan Allah, adapun kita sekedar menyampaikan saja. Kita pun harus meyakini bahwa taat kepada rasul adalah sumber kebahagiaan dan keselamatan, meskipun sebagian orang (baca: orang kafir dan munafik) menganggapnya sebagai kebodohan
Di antara kisah yang menyentuh hati adalah kisah dakwah Nabi Nuh ‘alaihis salam. Sebuah kisah yang amat menakjubkan. Kisah perjalanan hidup seorang manusia pilihan yang mengajak kaumnya untuk taat kepada Allah dan mentauhidkan-Nya, akan tetapi kebanyakan mereka justru mencemooh dan menolak ajakannya.
Sebuah kisah yang mencerminkan kesabaran pembela kebenaran. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, agar kamu -wahai Nuh- memperingatkan kaummu sebelum siksaan yang pedih menimpa mereka. Nuh berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan untuk kalian. Hendaklah kalian beribadah kepada Allah, bertakwa kepada-Nya dan taat kepadaku. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian hingga waktu yang telah ditentukan. Sesungguhnya ketentuan ajal dari Allah itu apabila telah datang maka tidak bisa lagi ditangguhkan seandainya kalian mengetahui’. Nuh berkata, ‘Wahai Rabbku, sungguh aku telah mendakwahi kaumku siang dan malam. Ternyata dakwahku tidak menambah apa-apa selain mereka justru semakin bertambah lari…” (QS. Nuh: 1-6)
Kisah tentang dakwah yang mendapatkan rintangan dan cemoohan.. Dakwah yang mengajak kepada keselamatan, namun disambut dengan tanggapan yang sangat menyakitkan! Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), ‘Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu. Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan. Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, ‘Kami tidak melihat kamu melainkan (sebagai) orang biasa seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (QS. Hud: 25-27)
Nabi Nuh ‘alaihis salam mengajak kaumnya untuk bertauhid, akan tetapi mereka justru menolak ajakannya. Mereka tetap bersikeras mempertahankan budaya syirik yang telah mendarah daging dalam kehidupannya. Allah menceritakan keluhan Nabi Nuh ‘alaihis salam (yang artinya), “Nuh berkata, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku dan justru mengikuti orang-orang yang tidak mendatangkan apa-apa dengan harta dan anak-anaknya selain kerugian. Mereka pun melakukan makar yang besar. Mereka berkata: Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian, dan jangan sampai kalian tinggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr…” (QS. Nuh: 21-23).
Adakah kezaliman dan kedurhakaan yang lebih besar daripada syirik? Adakah ajakan yang lebih sesat daripada ajakan untuk menolak tauhid dan melestarikan syirik? Maha suci Allah… Sungguh, Nabi Nuh ‘alaihis salam telah menunaikan tugasnya untuk berdakwah tauhid kepada kaumnya. Sebagaimana yang Allah tugaskan kepada segenap rasul yang diutus-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Allah).” (QS. an-Nahl: 36)
Hingga, tibalah saatnya Allah memerintahkan Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk membuat perahu sebelum datangnya banjir maha dahsyat yang akan menenggelamkan orang-orang yang durhaka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia pun tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh (950 tahun), sehingga banjir besar pun menelan mereka sedangkan mereka adalah orang-orang yang berbuat kezaliman. Maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang menaiki bahtera itu, dan Kami jadikan ia sebagai bahan pelajaran bagi semua manusia.” (QS. al-Ankabut: 14)
Proyek bahtera keselamatan ini justru membuat Nabi Nuh ‘alaihis salam diejek oleh para pembesar kaumnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Buatlah bahtera dengan pengawasan dan wahyu dari Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan-Ku mengenai nasib orang-orang yang zalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan dia [Nuh] pun membuat bahtera itu, dan setiap kali para pembesar kaumnya melewatinya, mereka pun mencemooh perbuatannya. Nuh pun berkata, ‘Jika kalian mengejek kami sekarang maka kelak kami pun akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek kami. Kalian pun kelak akan tahu siapakah yang akan mendapati siksaan yang menghinakan dirinya dan siapakah yang akan tertimpa azab yang kekal’.” (QS. Hud: 37-39)
Dan, ketika banjir besar itu datang, Nabi Nuh ‘alaihis salam telah menaikkan para pengikutnya yang setia ke atas bahtera. Memang tidak ada yang beriman kepada beliau kecuali segelintir orang saja. Sebagai seorang ayah, Nabi Nuh ‘alaihis salam tentu sangat ingin menyelamatkan putranya –yang bernama Yam, anaknya yang keempat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah [2/468]– dari timpaan azab.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bahtera itu pun berlayar membawa mereka (Nuh dan pengikutnya) di tengah gelombang yang datang laksana gunung. Dan Nuh memanggil putranya yang berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Wahai putraku, naiklah bersama kami. Janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir.’.” (QS. Hud: 42)
Lihatlah kasih sayang seorang ayah yang salih ini kepada putranya… Kasih sayang sejati seorang ayah yang menginginkan putranya selamat dari siksaan Allah. Kasih sayang yang menuntut sang ayah untuk mengajak putranya kepada kebenaran. Bukan kasih sayang palsu yang membiarkan sang anak larut dalam kebatilan… Seorang ayah yang menghendaki putranya menjadi hamba yang taat kepada Allah dan mengagungkan perintah-perintah-Nya..
Akan tetapi, sungguh disayangkan ternyata ajakan yang tulus ini disambut dengan pembangkangan. Allah ta’ala menceritakan (yang artinya), “Dia [anaknya] berkata, ‘Aku akan berlindung ke gunung yang akan menyelamatkanku dari terpaan air.’ Nuh berkata, ‘Tidak ada yang selamat pada hari ini dari hukuman Allah kecuali orang yang dirahmati.’ Gelombang itu pun memisahkan mereka berdua, dan putranya termasuk golongan yang ditenggelamkan.” (QS. Hud: 43)
Sang anak yang kafir ini mengira bahwa dengan lari ke puncak gunung bisa menyelamatkan dirinya dari ditenggelamkan oleh air bah yang sangat besar itu. Padahal, pada hari itu hanya orang-orang yang taat kepada rasul saja yang selamat, karena mereka telah menempuh jalan menuju rahmat Allah ta’ala. Adapun orang-orang yang dengan sengaja menentang rasul setelah tampak jelas petunjuk bagi mereka, maka kehancuran itulah kesudahan yang akan mereka temukan.
Semoga kisah ini bisa menjadi pendorong bagi kita untuk bersabar dalam mendakwahkan kebenaran, terus berusaha menyebarkan dakwah walaupun harus mendapatkan cemoohan. Hidayah di tangan Allah, adapun kita sekedar menyampaikan saja. Kita pun harus meyakini bahwa taat kepada rasul adalah sumber kebahagiaan dan keselamatan, meskipun sebagian orang (baca: orang kafir dan munafik) menganggapnya sebagai kebodohan
Langganan:
Postingan (Atom)
